Sabtu, 20 Februari 2016

KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERTANIAN ERA BUNG KARNO

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri telah menegaskan bahwa tahun 2016 adalah tahun menemukan kembali strategi Pembangunan Semesta dan Berencana untuk mewujudkan Trisakti. Dalam konteks itu, PDI Perjuangan akan menginisiasi gerakan nasional bersama menetapkan Haluan Negara dan Haluan Pembangunan. Pada Era Presiden Soekarno pernah dilaksanakan Pola Pembangunan Nasional Semesta dan Berencana (PNSB), sementara pada era Presiden Soeharto disebut Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN).

Perbedaan PNSB dengan GBHN terletak pada ruang lingkup haluan negara. Selain mengatur haluan pembangunan pemerintahan, PNSB juga mengatur haluan lembaga-lembaga negara lainnya. Tujuannya agar semua program lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif saling sinergis, terintegrasi, dan berkesinambungan menuju terciptanya tujuan negara sebagaimana diatur dalam Pembukaan UUD 1945. Sementara GBHN, yang sama-sama ditetapkan MPR seperti PNSB, ruang lingkupnya hanya berisi haluan pembangunan pemerintah dan dilaksanakan oleh eksekutif. GBHN tidak mengatur haluan lembaga-lembaga negara lain. Tetapi keduanya sama-sama usulan masyarakat dan dipersiapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) 
Sementara saat ini Rancangan Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) yang dibuat presiden lebih eksklusif sentris, dan bukan merupakan usulan masyarakat dan tidak pula dipersiapkan oleh MPR. Karenanya, RPJM hanya mengatur haluan pemerintah selama lima tahun dan merupakan visi-misi capres/cawapres yang disusun oleh pemerintah sendiri (Bappenas). Ini yang menjadikannya bersifat eksekutif sentris, dan tiap pergantian presiden berganti pula visi-misi pemerintahan itu. Padahal haluan negara harus mencerminkan kehendak rakyat dan bukan kehendak pemerintah. Karena itu, PDI Perjuangan berpandangan pada era reformasi ini, bangsa Indonesia kehilangan visi haluan negaranya.
Untuk menggaris-bawahi usulan Rakernas PDI di atas, sebagai contoh, perlu dilihat kembali bagaimana pembangunan pertanian di era Bung Karno. Di antara semua presiden Indonesia, barangkali Soekarno yang paling cermat dalam menganalisis situasi sosial ekonomi dan pertanian. Marhaenisme yang diperkenalkan Bung Karno tidak lepas dari sosok petani miskin yang hidup sederhana dan bergulat dengan berbagai keterbatasan tapi bisa bertahan hidup. 

Saat masih muda, Bung Karno dikelilingi situasi kemiskinan petani akibat politik devide et impera penjajahan Belanda yang tidak adil dan manusiawi. Sebagai manusia terdidik di zamannya, Bung Karno yang mencintai bangsanya terusik sehingga terdorong untuk melawan perilaku kolonialisme dan imperialisme. Bung Karno sangat paham bahwa pertanian adalah mata pencaharian utama seluruh rakyat dan bangsa Indonesia, sementara faktnya nasib para petaninya masih jauh dari situasi sejahtera. Yang terjadi, derajat sosial-ekonomi petani Indonesia justru semakin merosot dibandingkan profesi lainnya. 

Maka dalam sebuah pidato yang terkenal di IPB, Bung Karno menegaskan bahwa pangan  adalah hidup-matinya suatu bangsa dan petani adalah tulang punggung utama dari pangan Indonesia sehingga petani itu merupakan sokoguru dari bangsa Indonesia. Sejarah telah membuktikan bangsa-bangsa maju akan memberikan kedaulatan pangan sebagai prioritas utamanya. Mengingat sumber daya manusia dan sumber daya alam yang dimiliki bangsa Indonesia, maka tindakan meninggalkan pertanian sebagai sektor strategis adalah tindakan bunuh diri dan akan menggali  lubang bagi bangsanya sendiri. Sebagai contoh, Thailand, Vietnam, dan India menjadi makmur ketika mereka menjadikan pertanian sebagai sumber kekuatan  ekonomi bagi rakyatnya sehingga bisa duduk setara dengan bangsa-bangsa lain.

Semangat Bung Karno yang menyala-nyala untuk menjadikan petani terlepas dari berbagai belenggu kemiskinan itu menjadi PR bersama bagi seluruh elemen bangsa. Amanat sila kelima Pancasila dan pasal 33 UUD 1945 sudah begitu jelas, bahwa pertanian yang adil akan menjadi kebutuhan utama guna mengatasi situasi yang berkembang saat ini.

Tanpa bermaksud menyederhanakan persoalan, memang terdapat dua blok besar Soekarno dan Landreform Soekarno yang memahami bahwa membangun ekonomi bangsa harus dimulai dari menata struktur penguasaan tanah terutama pertanian. Selama periode transisi 1945 hingga 1960 politik agraria di Indonesia masih menggunakan dasar hukum penjajah Belanda dan sebagian tata cara pengelolaan tanah pertanian dan perkebunan juga meniru model Jepang. 
Pola penguasaan tanah belum diatur secara sistematis dalam undang-undang. Dalam kondisi seperti itu pemilikan, penguasaan, dan pemanfaatan tanah tidak berada dalam strategi pembangunan ekonomi nasional, tetapi lebih bersifat temporer dan reaktif. Memang era tahun 1945 hingga berlakunnya UUPA 24 September 1960, telah dilahirkan UU yang mengatur pertanahan seperti penghapusan tanah partikelir dan desa perdikan. 

UUPA tahun 1960 pada prinsipnya mengatur lima hal, yaitu; (1) Sesuai dengan pasal 33 ayat 3 UUD 1945; (2) Negara membatasi luas maksimal pemilikan tanah untuk menghindari tumbuhnya tuan tanah yang menghisap tenaga kerja petani melalui sistem sewa dan gadai; (3) Negara punya wewenang mengeluarkan sertifikat atas tanah bagi warga negara Indonesia tanpa membedakan suku, agama, golongan, jenis kelamin melainkan berdasarkan prinsip nasionalitas; (4) Tanah dikerjakan sendiri secara aktif dan melarang pemilikan tanah pertanian yang tidak dikerjakan karena akan menimbulkan tanah terlantar atau merenggangkan relasi buruh tani dengan pemilik tanah yang cenderung memeras; (5) Negara memberi bukti kepemilikan hak atas tanah untuk memberi kepastian hukum kepada petani pemilik tanah. Sebagai bagian dari pembangunan semesta berencana, UUPA ini ingin membangun pembaharuan agraria yang akan memberikan kemakmuran pada rakyat yang sebagian besar kehidupannya sangat tergantung sektor agraris.

Tujuan dari pembaharuan agraria di atas adalah untuk: (1) Membagi secara adil sumber penghidupan petani dengan merombak struktur pertanahan secara revolusioner; (2) Melaksanakan prinsip tanah pertanian agar tidak terjadi lagi tanah sebagai objek spekulatif dan obyek pemerasan; (3) Memperkuat dan memperluas hak milik atas tanah bagi setiap WNI yang bersifat sosial; (4) Mengakhiri sistem tuan tanah dan menghapus penguasaan tanah secara besar-besaran dan tak terbatas dengan menyelenggarakan batas maksimal dan minimal bagi setiap keluarga; (5) Mempertinggi produksi dan mendorong pertanian secara gotong-royong dalam koperasi dan bentuk sosial lainnya untuk mencapai kesejahteraan yang adil dan merata bagi seluruh petani, melalui sistem perkreditan yang ditujukan pada golongan petani. 
Pertanyaannya, seperti ditegaskan Megawati di atas, mampukah pemerintahan Jokowi-JK ke depan menjalankan ide besar yang pernah dirintis Bung Karno itu? Ini merupakan PR terberat bagi pemerintah agar konsekuen dalam menjalankan Trisakti dan Nawacita yang telah dikampanyekan Jokowi-JK selama Pilpres 2014, tapi hingga kini masih sebatas mantra dan slogan belaka, serta masih jauh panggang dari api. (Swan)


Sumber : http://sejarahkita.org/kolom/refleksi/159-kebijakan-pembangunan-pertanian-era-bung-karno

Lahirnya Marhaenisme

Jumat, 18 November 2011

Dalam konteks sejarah marhaenisme merupakan sebuah konstruksi pemikiran soekarno yang dihasilkan dari sebuah perenungan yang sangat mendalam dan sebuah analisa bedasarkan historis materialisme terhadap perkembangan masyarakat yang hidup dalam wilayah geo politik (Hindia Belanda). Berdasar hasil penganalisaan tersebut didapatlah sebuah relitas sejarah, bahwa rakyat Indonesia mengalami penderitaan yang sangat mendalam akibat sistem kapitalisme/imperialisme (kolonialisme) bangsa asing dan feodalisme bangsa sendiri. 
Kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan adalah bentuk penderitaan yang diakaibatkan oleh sistem kapitalisme/imperialisme/kolonialisme yang bersifat menindas rakyat Indonesia. Ketertindasan rakyat Indonesia ini oleh Soekarno di contohkan dalam realitas kehidupan yang di alami Pak Marhaen. Yaitu seorang petani miskin di daerah Cigareleng – Bandung yang kebetulan ketemu dengan Soekarno muda ketika sedang bergerilya dari desa ke desa. Dari obrolan dengan pak marhaen didapat keterangan bahwa, meskipun Pak Marhaen memiliki sawah dan alat produksi sendiri (cangkul, bajak, kerbau dll) termasuk “gubug” namun hasil produksi pertanian ternyata tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, kalaupun cukup itupun secara pas-pasan.
Untuk itulah diperlukan sebuah landasan perjuangan (flat form perjuangan) bagi bangsa Indonesia untuk membebaskan diri dari segala bentuk penindasan yang menyengsarakan tersebut. Landasan perjuangan tersebut oleh Soekarno dirumuskan dalam MARHAENISME. Marhaenisme dalam pemikiran Soekarno adalah sebuah idiologi perjuangan sekaligus sebagai idiologi pembebasan.

Marhaenisme & Jiwa Kehidupan Rakyat
Dari realitas sosial politik yang dilihat soekarno tersebut maka tanpa melakukan perlawanan terhadap sistem kapitalisme, imperialisme, kolonialisme dan feodalisme maka tidak mungkin membebaskan anak manusia dari kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan penindasan manusia atas manusia dan bangsa atas bangsa. Dari uraian diatas jelaslah bahwa marhaenisme memiliki keperpihakan yang sangat besar terhadap kaum tertindas (marhaen).
Marhaenisme adalah cermin dari jiwa dan cita-cita kehidupan rakyat Indonesia yang merdeka. Bahkan marhaenisme adalah cerimin dari jiwa dan cita-cita kehidupan manusia. Mengapa begitu ? Sebab pada prinsipnya ajaran marhaenisme itu bersumber dari TUNTUTAN BUDI/NURANI MANUSIA (the social concience of man) yaitu tuntutan atau keinginan untuk terciptanya harmonisasi antara kemerdekaan individu dan keadilan sosial. Begitu pula bagi rakyat Indonesia yang menginginkan kemerdekaan sebagai sebuah negara bangsa yang didalam segalanya menyelamatkan kaum marhaen dari segala bentuk penindasan dan ketidak adilan.

Marhaenisme Sebagai Azas
Dari berbagai tulisan Soekarno dapat kita temukan pada prinsipnya marhaenisme sebagai idiologi/azas mengandung tiga pokok pikiran yaitu SOSIO NASIONALISME (nasionalisme yang berperi kemanusiaan), SOSIO DEMOKRASI (demokrasi politik dan demokrasi ekonomi/ demokrasi yang berorientasi pada keadlan sosial) DAN KETUHANAN YANG MAHA ESA (demensi religiusitas bangsa Indonesia). Untuk mewujudkan cita-cita marhaenisme yaitu masyarakat adil makmur maka harus ditempuh dengan jalan REVOLUSI. Revolusi menurut marhaenisme dibagi dalam tiga tahap :
1.       Tahap Nasional Demokratis
2.      Tahap Sosialisme Indonesia
3.      Tahap Masyarakat Dunia Adil Makmur
Tahap nasional demokratis akan dapat dicapai apabila tiga prinsip kemerdekaqn yang bersifat universal dapat di wujudkan. Ketiga prinsip kemerdekaan (TRISAKTI) itu adalah:
1.       berdaulat di bidang politik
2.      berdikari di bidang ekonomi
3.      berkepribadian di bidang kebudayaan
Ketiga prinsip kemerdekaan itu harus dibangun diatas landasan NATION AND CHARACTER BUILDING.
Hakekat perjuangan pada massa revolusi fisik menuju kemerdekaan adalah dengan perjuangan politik. Perjuangan politik yang dibangun Soekarno adalah dengan machtvorming (pembentukan kekuatan) dan machtaadwending (penggunaan kekuatan). Sehingga mampu membentuk kekuatabn progresif revolusioner (kekuatan massa aksi) menuju Proklamasi 17 Agustus 1945. Inilah tonggak awal tahap Nasional Demokratis.
Untuk menuju sosialisme Indonesia dan dunia Baru Yang adil dan beradab maka nilai-nilai marhaenisme mulai harus diperjuangkan dan ditegakkan. Disamping itu usaha-uasaha perbaikan sosial dalam kerangka menuju kehidupan yang lebih manusiawi pun harus ditegakkan. Semua upaya ini harus berlandaskan pada prinsip-prinsip kemerdekaan yang sudah kita sepakati bersama melalui “proclamation of independen” dan “dekalaration of independen”.
Pertama: Dalam tataran internasional Soekarno melakukan penggalangan kekuatan bangsa-bangsa tertindas melalui Gerakan NON-BLOK yang disebut dengan NEW EMERGING FORCE (NEFO) yang diawali melalui Konferensi Asia Afrika di Bandung 1955. Sementara itu pada tataran nasional Soekarno melakukan strategi NASAKOM (nasinalisme, agama dan komonisme) yaitu bersatunya kekuatan progresif revolusioner yang ada dan mengakar kuat dalam masyarakat Indonesia. Kerangka itu dibangun dalam rangka melawan segala macam bentuk penindasan dan penghisapan manusia atas manusia dan penindasan bangsa-atas bangsa atau melawan segala betuk kapitalisme,imperialisme,kolonialisme dan feodalisme.
Kedua : Untuk tidak tergantung pada kapitalisme didalam negeri Soekarno mengembangkan prinsif self helf dan self reliance. Dan tataran internasional dikembangkan prinsip kerjasama internasional ynag sejajar dan saling menguntungkan serta tidak menciptakan ketergantungan.
Ketiga : Dalam bidang kebudayaan maka perjuangan untuk mngikis budaya feodalisme yang menindas rakyat. Dan mengembangkan sistem kebudayaan Indonesia yang berkepribadian ke-Indonesia-an yang selalu mengabdi pada kepentingan rakyat. Bukan kebudayaan barat yang menindas rakyat.

Marhaenisme Sebagai Azas Perjuangan
1. Non Kooperasi
Pada hakekatnya sana mau kesana - sini mau kesini. Keinginan kita tidak akan terpenuhi dengan meminta-minta/bekerjasana dengan kaum sana. Kita harus mengenal siapa lawan siapa kawan. Kemudian menentukan kontradiksi pokok dan kontradiksi tidak pokok. Antagonis dan non antagonis. Massa aksi dan machtvorming akan terbentuk melalui non kooperasi
2. Machvorming
Pembentukan kekuasaan. Kienginan akan terpenuhi kalau ada macht untuk mendesakkan. Machvorming bersendikan atas antitesa antara sana dan sini
3. massa aksi
kebangkitan massa secara radikal revolusioner yang disebabkan oleh tenaga-tenaga masyarakat sendiri yang sadar akan perjuanganya. Bentuk perjuangan massa aksi adalah bentuk perbuatan perjuangan kaum marhaen.. Machtvorming akan terbentuk apabila ada m,asa aksi.
4. Radikallisme
Adalah sikap yang mendasar, yang mencakup radikalisme pemikiran, radikalisme semangat, radikalisme gerakan. Dan radikalisme dapat dibangkitkan melalui non kooperasi
5. Self Ulf
Semangat mengelola sumber daya yang dimiliki. Tidak bergantung pada pihak lain
6. self reliance
kepercayaan diri adalah modal utama gerakan tanpa kepercayaan suatu gerakan akan kehilangan daya hidup dan dinamikanya.

Sumber : http://mainunkurniansyah.blogspot.co.id/2011/11/sejarah-lahirnya-marhaenisme.html

Soekarno Adalah Indonesia, Indonesia Adalah Soekarno

Oleh: Pramoedya Ananta Toer
Dia – Sukarno – mempersatukan dan memerdekakan negerinya. Dia membebaskan rakyat dari rasa rendah diri dan membuat mereka merasa bangga dan terhormat menjadi orang Indonesia, menjadi satu nasion yang memiliki republik Indonesia dalam pergaulan masyarakat dunia. Semua ini terjadi sesudah 350 tahun kolonialisme Belanda dan 3,5 tahun pendudukan fascisme Jepang dalam Perang Dunia ke-II. Apa yang dia kerjakan pada 17 Agustus 1945 sebenarnya adalah tepat sama dengan apa yang dilakukan Thomas Jefferson bagi negeri dan bangsa Amerika pada 4 Juli 1776. Dia menjadi satu-satunya politikus dan negarawan dalam sejarah politik modern umat manusia yang mempersatukan negeri dan bangsanya tanpa meneteskan setitik darah pun. Bandingkan dengan Jendral Suharto yang membantai dan memenjarakan dua juta orang lebih hanya untuk menegakkan rejim yang dia namakan Orde Baru.
Bung karno, begitulah paling senang dia dipanggil, telah memberikan semua bagi negerinya: kedudukan, karier politik sampai bahkan nyawanya demi persatuan, kesatuan dan perdamaian bangsanya. Itulah puncak-puncak kebenaran Sukarno yang untuk selama-lamanya tak pernah akan hapus, betapa pun bahaya desintegrasi dewasa ini mengancam Indonesia akibat warisan politik jendral Suharto. Tetapi berbeda dari pemimpin kebangkitan nasion Amerika itu, Pejoang kemerdekaan dan martabat manusia Indonesia ini tidak mendapat perlakuan adil dari sejarah sebagaimana patut dia terima dan semestinya dia diperlakukan.
Bagi sejumput kecil orang yang jujur dan tajam pandangan, ketidakadilan yang dialami Sukarno sebenarnya sudah lama diketahui, tetapi baru mulai sekarang pada saat kita akan meninggalkan abad 20, kejadian dengan Sukarno berangsur mulai terungkap dan dimengerti. Orang mulai mengerti bahwa Sukarno berada di pihak yang benar – dia bersih dari segala kotoran yang telah dilemparkan ke mukanya pada saat dia sudah tak berdaya berada dalam kerangkeng Jendral Suharto sampai kepada ajalnya.
Pada saat Sukarno bersama Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, cukup banyak politisi dan kaum intelektual Amerika dan Eropa melihat dalam diri Sukarno pembawa sinar pencerahan di negeri-negeri terkebelakang; dia dipandang semacam jelmaan Thomas Jefferson atau Abraham Lincoln. Tetapi anggapan seperti itu tidak berlangsung lama. Sebab, seusai perang Dunia ke-II, seluruh dunia mendadak dilanda suatu gelombang baru maha dahsyat. Ada setan baru lebih berbahaya lagi muncul setelah setan naziisme dan setan fascisme dihancur-leburkan : setan komunis. Perang panas berganti “perang dingin” yang tidak kalah memakan jumlah korban dan penderitaan besar rakyat dibanding dengan perang panas Perang Dunia ke-II, tetapi kali ini gelanggang pertarungannya berlangsung di negeri-negeri Selatan, dan berjalan lebih lama – bukan lima tahun – tetapi memakan seluruh paroh kedua abad ke-20, dan yang paling merasakan kali ini adalah rakyat negeri-negeri berkembang di Asia, Afrika dan Latin Amerika.
Abad 20 mencatat tonggak-tonggak penting dalam perkembangan sejarah dunia. Sukarno menyebut abad 20 sebagai abad kebangkitan rakyat kulit berwarna, abad kebangkitan rakyat-rakyat Asia, Afrika, latin Amerika membebaskan diri dari belenggu kolonialisme barat. Dia sendiri memainkan peran terkemuka dalam menggalang kebangkitan bangsa-bangsa kulit berwarna, mobilisator persatuan Asia-Afrika dengan konperensi Bandung yang historis itu, kemudian gerakan A-A ini juga meluas ke Latin Amerika. Sukarno menamakan Abad 20 juga sebagai era intervensi, era dimana negara kuat dengan bebas dapat mengaduk-ngaduk urusan intern negeri lain sesuai kepentingan politik dan ekonomi yang dikehendakinya. Dari segi hubungan ketata-negaraan, apa yang disebut era intervensi itu ditandai dengan munculnya satu fenomena paling baru abad-20: kejayaan dan kecanggihan permesinan intelligent. Mereka menjadi kekuasaan di dalam kekuasaan; negara di dalam negara. Badan-badan inteligent ini menjadi kekuasaan iblis yanh lebih berkuasa dari pemerintahan yang resmi di dalam suatu negara. Merekalah yang mengatur kemana dunia harus menjurus; kearah mana suatu negeri harus berjalan. Mereka pulalah yang menetukan bahwa kepala-kepala negara seperti misalnya John F.Kennedy, Lumumba, Nkrumah, Modibo Keita, Sukarno, dan Allende, harus turun dari pentas politik dunia. Itulah pertanda lahirnya zaman tiran-tiran dan diktator baru yang resmi, yang sah dan terhormat, ditolerir dan diakui dalam pergaulan antar negara. Itulah masanya kelahiran ketidakadilan yang suci, pemerkosaan hak-hak azasi yang sah, pembunuhan massal yang adil. Abad 20 adalah era kejayaan organisasi intelligent! Dan panggung tempat penguasa-penguasa intelligent itu menyutradarai lelakon para tiran resmi ini terjadi di bumi kawasan selatan yang disebut negeri-negeri berkembang. Kekuasaan negara dalam negara inilah yang menentukan seluruh strategi dunia bagaimana melibas komunisme, bagaimana memenangkan perang dingin setelah melibas naziisme Hitler, Fascisme Mussolini dan militerisme Jepang. Pemimpin-pemimpin visioner, seperti John kennedy dengan wawasan The New Frontiernya dan Sukarno dengan The emerging forcesnya, cuma menjadi penghalang yang dengan segala cara harus disingkirkan. Strategi organisasi maha-kuasa ini dalam menumpas Komunis di Eropa Barat adalah jelas: membanjiri negeri-negeri itu dengan dana dan sandang-pangan. Tetapi berbeda sama sekali dengan Eropa Barat, resep yang digunakan di Asia, Afrika, latin Amerika, tempat lahan sasaran mereka menanam modal mereka, bukanlah kucuran dana, bukan Marshall Plan, tetapi kiriman senjata dan menciptakan rejim-rejim militer setempat sebagai penguasa atau kekuasaan dalam kekuasaan. Rejim militer seperti Mobutu di Afrika dan Suharto di Asia yang menginjak-injak hak-hak Azasi manusia mereka restui asal saja dilakukan atas nama rakyat, diajak bermitra memperkaya diri tanpa batas bersama modal asing. Memenjarakan dan membunuh rakyat tidak peduli jumlahnya, selama semua itu dilakukan atas nama demokrasi demi menumpas komunis. Dalam konteks situasi seperti itu citra Thomas Jefferson yang tadinya melekat pada Sukarno mendadak sontak berubah menjadi agen komunis berbahaya, karena Sukarno dianggap memberikan kesempatan bagi kaum komunis memperluas wilayah pengaruhnya. Itulah paradigma abad 20 kubu kapitalis barat: kekuatan dan kekuasaan militerisme lokal mengkerangkeng dinamisme dan emansipasi rakyat, demi stabilisasi politik guna meratakan jalan bagi kiprahnya penanaman modal.
Kampanye fitnah pada awalnya dimulai dengan menuduh Sukarno sebagai kolaborator militerisme Jepang, kemudian dia menjadi diktator dengan konsep demokrasi terpimpinnya, selanjutnya dia kejangkitan megalomania yang mau membangun dunia baru dengan distribusi kemakmuran yang lebih adil, padahal ekonomi negerinya sendiri –begitu katanya—tak diurus sehingga membikin rakyatnya melarat.
Benarkah apa yang dilemparkan ke muka Sukarno itu? Bukan saja politisi, ada juga pakar ilmu sosial dan sejumlah wartawan –terutama Belanda bersama rekan-rekan Indonesianya yang sepemikiran –ikut mengunyah-ngunyah sampah kotor itu. Sukarno kolaborator militerisme Jepang? Pada waktu dia dalam tahun 30-an berada dalam tahanan pemerintah kolonial Belanda, menjelang Perang Dunia ke-II, dia sudah menulis surat kepada Gubernur Jendral Belanda tentang bahaya fascisme jepang dan menawarkan kerjasama kaum nasionalis yang dia wakili untuk melawan musuh bersama itu. Pemimpin nasional Indonesia lainnya, seperti Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir, menawarkan hal yang sama, akan tetapi tawaran dari tiga pemimpin terkemuka Indonesia ditolak oleh Belanda. Namun sekurang-kurangnya Hatta dan Sjahrir dibebaskan dari pulau pembuangan di kepulauan Maluku dan dikembalikan ke Sukabumi di Jawa, tetapi sukarno tetap ditahan di Bengkulu-Sumatera sampai tentara Jepang datang menduduki Hindia Belanda.
Belanda dalam beberapa hari takluk kepada Jepang dan menyerahkan Indonesia dan rakyatnya termasuk Sukarno bulat-bulat ke tangan kekuasaan militeris Jepang. Orang sehat tentu bertanya: apakah ada hak moral Belanda atau siapa pun di dunia barat untuk menuduh Sukarno macam-macam bila dia menggunakan kesempatan yang terbuka baginya untuk membangunkan kesadaran nasional pemuda dan rakyat Indonesia agar bangkit siap menyongsong kemerdekaan tanah-air yang dia perjuangkan sepanjang masa hidupnya? Apa yang dikerjakan Sukarno selama pendudukan Jepang adalah suatu tugas politik maha-besar yang tidak mudah dapat dibayangkan orang sekarang. Di bawah hidung militerisme Jepang dengan kharisma pribadinya yang besar dia membangkitkan semangat rakyat yang beratus tahun dikatakan indolent menjadi matang menyala-nyala guna mempersiapkan diri rela berkorban jiwa-raga menyongsong kemerdekaan. Dunia kemudian mengenal heroisme pemuda Indonesia yang pada 10 November 1945 mengorbankan segalanya menghadapi kekuatan mahadasyat tentara sekutu pemenang Perang Dunia ke-II untuk mempertahankan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Sukarno diktator? Sedikitpun dia tidak punya bakat untuk menjadi seorang diktator. Hati nuraninya terlalu anggun, dia terlalu diilhami nilai-nilai Barat kalau tak mau dikatakan menjadi korban nilai-nilai yang dia sanjung-sanjung dan junjung tinggi : demokrasi dan idée-idee Entlightment revolusi Prancis. Justru oleh karena itu pula, Sukarno tidak akan mampu membangun Indonesia sebagaimana yang dilakukan oleh Jendral Suharto. Pembangunan Indonesia atau lebih tepat pembangunan di Indonesia selama Rejim orde baru Suharto yang dipuja-puja oleh dunia Barat, memang betul hanya mampu dilakukan oleh Suharto. Sebab untuk itu mutlak diperlukan orang yang tidak punya hari-nurani, orang yang bengis tega hati sanggup membunuh dan menjebloskan siapapun dalam penjara kalau dia membutuhkan tanah untuk lapangan golf atau segala macam proyek lain yang dia dan anak-anaknya ingin miliki.
Bagaimana dengan “Demokrasi terpimpin” Sukarno? Justru dalam butir ini tidak ada satu negara demokrasi Barat pun mempunyai hak moreel untuk menuduh sukarno meninggalkan demokrasi dan menempuh diktatur lewat konsep demokrasi terpimpinnya. Bukankah justru Sukarno yang dikhianati oleh Barat yang demokratis itu? Apakah itu demokrasi barat yang dibangga-banggakan? Demokrasi Barat memang betul demokrasi, tetapi hanya untuk di dalam negeri mereka sendiri! Untuk di luar negeri, demokrasi barat itu tidak ada dan boleh tidak berlaku. Bukankah bagi demokrasi barat sah-sah saja menjajah dan menguras kekayaan negeri –negeri lain?
Sukarno menjadi Presiden secara formal selama 20 tahun, 1945-1965. Sebenarnya dia cuman enam tahun terakhir 1959-1965 berkuasa; dalam arti memegang langsung pemerintahan dimana dia kemudian meluncurkan gagasan “demokrasi terpimpin”nya. Mengapa dia berpaling ke demokrasi terpimpin? Padahal selama Sukarno aktif dalam politik, mulai zaman mahasiswanya, sampai dia menjadi presiden selama 14 tahun sampai 1959, tidak pernah dia satu kali pun menyinggung apalagi membela “demokrasi terpimpin”. Juga tidak dalam puncak dari segala pidatonya yaitu pidato bersejarah 1 Juni 1945 yang telah melahirkan wawasan politik pancasila, ideologi negara Republik Indonesia yang diterima bulat sampai detik sekarang ini. Silahkan teliti semua tulisan dan semua pidatonya yang beribu-ribu jumlahnya itu! Jadi sekali lagi mengapa Sukarno dia pilih demokrasi terpimpin? Tidak lain karena dia terlalu berkukuh pada demokrasi ala barat. Walau pun dia tidak setujui berbagai praktek penerapannya, tetapi sebagai demokrat sejati dia ikuti kemauan Hatta, Sjahrir dan berbagai pemimpin Indonesia lainnya yang bergilir memegang tapuk pemerintahan sesuai dengan Azas demokrasi pola barat. Akibatnya Indonesia memiliki 60 partai politik yang beberapa bulan sekali boleh berganti-ganti kabinet.
Sukarno terpaksa menghentikan hura-hura demokrasi Barat yang mengacau itu. Dia memperkenalkan demokrasi terpimpin yang mereorganisasi 60 partai politik menjadi 11. Suatu langkah yang dia selalu namakan sebagai suatu Notwendigkeit, suatu political neccecity. Tetapi itulah adalah diktatur! Sebaliknya bila Jendral Suharto sebagai kuda pentagon membubarkan semua partai politik dan menyisakan dua partai politik yes-man saja untuk sekedar menjadi ornamen demokrasi disamping partai Golkar sebagai kendaraan politiknya yang mutlak berkuasa, maka itu bukan demokrasi terpimpin, bukan diktatur. Inilah ciri abad 20 yang saya namakan zaman para tiran resmi. Era Mobutu, Suharto, Pinochet, era pelanggaran hak asasi yang suci dan era pembunuhan masal yang adil. Era paradigma politik luar negeri Amerika untuk memelihara dan mendukung para jendral dan rejim-rejim militer di negeri-negeri berkembang sebagai faktor stabilisator di kawasan bumi bagian selatan untuk memungkinkan modal mereka bekerja dengan aman. Khusus menyangkut Indonesia, memasuki millennium selanjutnya masih tampak jelas tanda-tanda bahwa Amerika akan tetap mengandalkan kekuatan angkatan darat berikut sekutu golkarnya sebagai perpanjangan tangan untuk menjamin kepentingan-kepentingan mereka terus dapat berlangsung seperti sediakala dimasa-masa kejayaan Orde Baru Suharto yang sudah lewat. Masih tak terpikir oleh para penguasa di Washington bahwa berkukuh terus pada paradigma kekuasaan militer sebagai faktor stabilisasi sekarang menjadi kontra-produktif bahkan destruktif. Pemecahan segala masalah, mulai dari Aceh, Ambon, Irian, Timtim, konflik etnik, sampai kepada krisis ekonomi-moneter dan stabilisasi politik untuk memungkinkan investasi modal bekerja dengan aman, kuncinya tidak lain adalah menugaskan militer menjadi militer, dan menghentikan mereka menjadi politikus.
Catatan: artikel ini sudah dimuat sebelumnya di Hasta Mitra dan berdikari.online

Pidato Bung Karno di Semarang 29 Juli 1956

Inilah pidato Bung Karno di Semarang 29 Juli 1956 yang spektakuler itu. Semoga bisa jadi penggugah semangat.

Saudara-saudara,

Djuga sadja pernah tjeritakan dinegara-negara Barat itu hal artinja manusia, hal artinja massa, massa.
Bahwa dunia ini dihidupi oleh manusia. Bahwa manusia didunia ini, Saudara-saudara, basically pada dasar dan hakekatnja adalah sama; tidak beda satu sama lain. Dan oleh karena itu manusia inilah jang harus diperhatikan. Bahwa massa inilah achirnja penentu sedjarah, The Makers of History. Bahwa massa inilah jang tak boleh diabaikan ~ dan bukan sadja massa jang hidup di Amerika, atau Canada, atau Italia, atau Djerman, atau Swiss, tetapi massa diseluruh dunia.
Sebagai tadi saja katakan: Bahwa World Prosperity, World Emancipation, World Peace, jaitu kekajaan, kesedjahteraan haruslah kekajaan dunia : bahwa emansipasi adalah harus emansipasi dunia; bahwa persaudaraan haruslah persaudaraan dunia ; bahwa perdamaian haruslah perdamaian dunia ; bahwa damai adalah harus perdamaian dunia, berdasarkan atas kekuatan massa ini.
Itu saja gambarkan, saja gambarkan dengan seterang-terangnja. Saja datang di Amerika,- terutama sekali di Amerika Djerman dan lain-lain dengan membawa rombongan. Rombongan inipun selalu saja katakan : Lihat, lihat , lihat, lihat!! Aku jang diberi kewadjiban dan tugas untuk begini : Lihat, lihat, lihat!! Aku membuat pidato-pidato, aku membuat press-interview, aku memberi penerangan-penerangan; aku jang berbuat, Ini lho, ini lho Indonesia, ini lho Asia, ini lho Afrika!!
Saudara-saudara dan rombongan : Buka mata, Buka mata! Buka otak! Buka telinga!
Perhatikan, perhatikan keadaan! Perhatikan keadaan dan sedapat mungkin tjarilah peladjaran dari pada hal hal ini semuanja, agar supaja saudara saudara dapat mempergunakan itu dalam pekerdjaan raksasa kita membangun Negara dan Tanah Air.
Apa jang mereka perhatikan, Saudara-saudara? Jang mereka harus perhatikan, bahwa di negara-negara itu terutama sekali di Amerika Serikat apa jang saja katakan tempoh hari disini Hollandsdenken tidak ada.
Hollands denken itu apa? Saja bertanja kepada seorang Amerika. Apa Hollands denken artinja, berpikir secara Belanda itu apa? Djawabnja tepat Saudara-saudara That is thinking penny-wise, proud, and foolish, katanja.
Thinking penny-wise, proud and foolish. Amerika, orang Amerika berkata ini, Thinking penny-wise artinja Hitung..satu sen..satu sen..lha ini nanti bisa djadi dua senapa `ndak?.. satu sen..satu sen Thinking penny-wiseProud : congkak, congkak, Foolish : bodoh.
Oleh karena akhirnja merugikan dia punja diri sendirilah, kita itu, Saudara-saudara, 350 tahun dicekoki dengan Hollands denken itu. Saudara-saudara, kita 350 tahun ikut-ikut, lantas mendjadi orang jang berpikir penny-wise, proud and foolish.
Jang tidak mempunjai imagination, tidak mempunjai konsepsi-konsepsi besar, tidak mempunjai keberanian Padahal jang kita lihat di negara-negara lain itu, Saudara-saudara, bangsa bangsa jang mempunjai imagination, mempunjai fantasi-fantasi besar: mempunjai keberanian ; mempunjai kesediaan menghadapi risiko ; mempunjai dinamika.
George Washington Monument misalnja, tugu nasional Washington di Washington, Saudara-saudara : Masja Allah!!! Itu bukan bikinan tahun ini ; dibikin sudah abad jang lalu, Saudara-saudara. Tingginja! Besarnja! Saja kagum arsiteknja jang mempunjai imagination itu, Saudara-saudara.
Bangsa jang tidak mempunjai : imagination tidak bisa membikin Washington Monument. Bangsa jang tidak mempunjai imaginationja, bikin tugu, ja rongdepo, Saudara-saudara. Tugu rong depo katanja sudah tinggi, sudah hebat.
Pennj-wise tidak ada, Saudara-saudara. Mereka mengerti bahwa kita atau mereka djikalau ingin mendjadi satu bangsa jang besar, ingin mendjadi bangsa jang mempunjai kehendak untuk bekerdja, perlu pula mempunjai imagination,: imagination hebat, Saudara-saudara.
Perlu djembatan? Ja, bikin djembatantetapi djangan djembatan jang selalu tiap tiap sepuluh meter dengan tjagak, Saudara-saudara, Ja , umpamanja kita di sungai Musi.Tiga hari jang lalu saja ini ditempatnja itu lho Gubernur Sumatera Selatan Pak Winarno di Palembang Pak Winarno, hampir hampir saja kata dengan sombong, menundjukkan kepada saja ini lho Pak! Djembatan ini sedang dibikin, djembatan jang melintasi Sungai Musi Saja diam sadja -Sungai Ogan Saja diam sadja, sebab saja hitung-hitung tjagaknja itu. Lha wong bikin djembatan di Sungai Ogan sadja kok tjagak-tjagakan !!
Kalau bangsa dengan imagination zonder tjagak, Saudara-saudara !!
Tapi sini beton, tapi situ beton !! Satu djembatan, asal kapal besar bisa berlalu dibawah djembatan itu !! Dan saja melihat di San Fransisco misalnja, djembatan jang demikian itu ; djembatan jang pandjangnja empat kilometer, Saudara-saudara ; jang hanja beberapa tjagak sadja.
Satu djembatan jang tinggi dari permukaan air hingga limapuluhmeter; jang kapal jang terbesar bisa berlajar dibawah djembatan itu. Saja melihat di Annapolis, Saudara-saudara, satu djembatan jang lima kilometer lebih pandjangnja, imagination, imagination imagination!!! Tjiptaan besar!!!
Jembatan raksasa Golden Gate di San Francisco,

sudah berdiri sejak tahun 1937
Kita jang dahulu bisa mentjiptakan tjandi-tjandi besar seperti Borobudur, dan Prambanan, terbuat dari batu jang sampai sekarang belum hancur ; kita telah mendjadi satu bangsa jang kecil djiwanja, Saudara-saudara!! Satu bangsa jang sedang ditjandra-tjengkalakan didalam tjandra-tjengkala djatuhnja Madjapahit, sirna ilang kertaning bumi!! Kertaning bumi hilang, sudah sirna sama sekali. Mendjadi satu bangsa jang kecil, satu bangsa tugu rong depa.
Saja tidak berkata berkata bahwa Grand Canyon tidak tjantik. Tapi saja berkata : Tiga danau di Flores lebih tjantik daripada Grand Canyon. Kita ini, Saudara-saudara, bahan tjukup : bahan ketjantikan, bahan kekajaan. Bahan kekajaan sebagai tadi saja katakan : We have only scratched the surface Kita baru `nggaruk diatasnja sadja.
Kekajaan alamnja, Masja Allah subhanallahu wa taala, kekajaan alam. Saja ditanja : Ada besi ditanah-air Tuan? Ada, sudah ketemu :belum digali. Ja, benar! Arang-batu ada, Nikel ada, Mangan ada, Uranium ada. Percajalah perkataan Pak Presiden. Kita mempunjai Uranium pula.
Kita kaja, kaja, kaja-raja, Saudara-saudara : Berdasarkan atas imagination, djiwa besar, lepaskan kita ini dari hal itu, Saudara-saudara.
Gali ! Bekerdja! Gali! Bekerdja! Dan kita adalah satu tanah air jang paling cantik di dunia.
Terlupakannya Arti Sumpah Pemuda di Kalangan Pemuda Masa Kini

Assalamualaikum Wr. Wb.

Kepada yang terhormat Ibu Eni Purnamaningrum selaku kepala SMPN 1 Banyuwangi
Yang saya hormati Bapak, Ibu dan staf TU
Yang saya sayangi teman-teman semua
Puji syukur kehadirat Allah SWT. karena berkat rahmatNya kita bias berkumpul disini guna memperingati hari sumpah pemuda siang ini.
Hadirin yang saya hormati

Pada kesempatan ini, perkenankanlah saya menyampaikan sedikit uraian tentang terlupakannya arti sumpah pemuda masa kini. Hal ini dikarenakan banyak kalangan muda yang sudah melupakan arti dari sumpah pemuda.
Sumpah pemuda merupakan hasil perjuangan para pemuda di masa lampau dalam mempersatukan seluruh bangsa Indonesia yang saat itu dilanda perpecahan karena adanya perang.
Namun para pemuda masa kini malah gampang melupakan arti penting sumpah pemuda karena adanya kemajuan teknologi di era globalisasi ini.
Para pemuda sekarang sudah melupakan arti penting dari 3 isi sumpah pemuda yang telah mempersatukan tanah air, bangsa dan bahasa persatuan. Padahal bila dilihat dari segi sejarah, pada pemuda masa lau bersusah payah mempersatukan bangsa, tapi apa yang dibalas pemuda masa kini? Mereka malah seenaknya melupakan dengan melakukan bentrok antar pelajar.
Bebrapa dari pulau Indonesia sudah diaku dan bahkan dijual di salah satu situs internet, padahal arti sumpah pemuda pertama kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Harusnya para pemuda Indonesia mempertahankan tanah airnya.
Saat ini banyak bentrokan antar pelajar. Padahal makna dari sumpah pemuda kedua kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia yang seharusnya tetap bersatu.
Bahkan pada suku di pedalaman belum mengenal bahasa pemersatu bangsa yaitu bahasa Indonesia, pdahal arti ketiga sumpah pemuda kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia, mereka tidak mengenal karena mereka tidak bias terhubanung dengan dunia luar dan sulit belajar. Seharusnya pemerintah setempat mau menyelesaikan permasalahan ini.
Dalam hal ini marilah kita belajr dari kejadian-kejadian yang sudah saya sampaikan tadi dan lebih mengingat arti sumpah pemuda dan perjuangan pemuda masa lalu.
Demikian pidato yang dapat saya sampaikan. Mohon maaf bila ada kesalahan. Atas kehadirannya saya ucapkan terima kasih dan Wassalamuailaikum Wr. Wb.
Assallamu alikum Wr. wb. Para Pemuda dan Hadirin yang berbahagia, Tujuh puluh sembilan tahun adalah suata masa dan perjalanan yang cukup panjang bagi suatu generasi bangsa ketika itu, 28 Oktober 1928 silam, pemuda Indonesia dan berbagai kalangan berkumpul di Jakarta, mengucapkan suatu tekad dalam ikrar yang dikenal dengan sumpah pemuda.
Hari ini, kita semua kembali memperingati hari bersejarah yaitu Hari Sumpah Pemuda/Hari Pemuda. Ini menunjukkan bahwa sebagai bangsa yang besar selalu menghargai dan menjunjung tinggi jasa dan pengorbanan para pejuang dalam mencapai dan menegakkan kemerdekaan Republik Indonesia.
Kementerian negara pemuda dan olahraga telah menetapkan tema peringatan hari sumpah pemuda ke-79 tahun ini adalah Meningkatkan solidaritas, integritas, dan profesionalisme pemuda menuju bangsa yang sejahtera dan bermartabat.
Tema demikian mengandung makna bahwa pemuda Indonesia yang memiliki semangat solidaritas adalah pemuda yang mampu menumbuhkan empati sosial merasakan penderitaan orang lain dan memiliki kemampuan untuk berbagi rasa.
Untuk itu saya bersyukur, marilah kita memanjatkan doa kehadirat Allah, Tuhan Yang Maha Esa, agar kita semua, terutama generasi muda diberi kekuatan lahir dan bathin dalam meneruskan perjuangan membangun bangsa dan negara untuk mewujudkan kehidupan masa depan yang lebih baik.
Peserta Upacara yang Saya hormati, Setiap kita memperingati hari-hari yang bersejarah , kita perlu mengenang sejenak, betapa besar perjuangan para pendahulu , para pejuang bangsa dalamn menegakkan kemerdekaan yang telah dicapai pada masa pejuangan itu, dilakukan secara kompak terpadu antara masyarakat dengan semua kekuatan yang ada. Perjuangan mereka tidak mengenal waktu, perjuangan mereka tidak dapat dinilai, karena tanpa mempertimbangkan harta benda maupun keluarga. Mereka hanya ingin mencapai satu tujuan yaitu merdeka.
Sumpah Pemuda Tahun 1928 merupakan suatu keputusan yang lahir dari berbagai diskusi dan pembicaraan panjang para pemuda Indonesia pada waktu itu, yang merupakan cikal bakal berdirinya Republik Indonesia. Oleh karena itu, pemuda sebagai calon pemimpin dan pelaku bangsa kedepan harus mampu memahami serta menghayati secara mendalam tentang makna sumpah pemuda.
Pemuda harus menjadi ujung tombak dan pionir perjalanan bangsa ini, serta harus mampu pula mengemban amanat reformasi. Kita jangan sampai terjebak pada fase pertentangan dan diskusi yang sebetulnya tidak perlu yang hanya membuang energi dan tenaga saja.
Tantangan kedepan semakin berat dan komplek. Era perdagangan bebas dan investasi sudah berada dihadapan kita. Era globalisasi dan tekhnologi informasi itu menuntut adanya kualitas SDM bangsa yang handal utnuk memenangkan persaingan yang semakin tajam.
Oleh karena itu, dalam memperingati hari Sumpah Pemuda/Hari Pemuda ini marilah kita tingkatkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa, moral bangsa, juga dituntut peningkatan SDM bangsa yang disiplin, mandiri dan profesional dengan penguasaan IPTEK dan keterampilan.
Peringatan hari sumpah pemuda ke-79 ini, juga mengandung makna yang amat dalam dan strategis dalam upaya bangsa dan negara kita memperbaiki kualitas dan menunjukan identitas jatidirinya sebagai bangsa yang besar, berkualitas, berwibawa, dan bermartabat.
Disisi lain pemuda juga dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam menjembatani melaksanakan desentralisasi atau otonomi daerah. Dengan demikian diharapkan hasil pembangunan yang dirasakan belum merata ke seluruh pelosok daerah akan semakin cepat merata dan teratasi, sehingga akan melahirkan kembali kebangkitan dan keberhasilan pembangunan nasional menuju Indonesia baru yang maju, mandiri, demokrasi dan berkeadilan.
Peserta upacara yang saya hormati, Pemuda bangsa Indonesia sebagai pewaris nilai luhur budaya bangsa, penerus cita-cita luhur perjuangan budaya bangsa dan sumber insani pembangunan nasional, sudah seharusnya berbenah diri dan menetapkan tekad serta mengoptimalkan peranannya dalam menggalang persatuan dan kesatuan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia/Pemuda Indonesia sebagai upaya nyata dapat mewujudkan pembangunan nasional secara berkesinambungan.
Bila kita menoleh kebelakang salah satu sendi utama dari pembangunan nasioanal kita adalah persatuan dan kesatuan bangsa. Didalam persatuan dan kesatuan bangsa dengan segala ke-Bhinneka-annya tersirat kekuatan untuk menghadapi tantangan yang memacu bangsa kita untuk bersanding dengan bangsa-bangsa lain. Dengan semangat persatuan dan kesatuan ini pula berkembang keutuhan dan kebersamaan Bangsa Indonesia.
Sejalan dengan ini, Saya mengajak melalui momentum peringatan sumpah pemuda ini kita jadikan sebagai pemicu semangat kita bersama untuk senantiasa meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa meningkatkan partisipasi dan dukungan terhadap pembangunan yang berpihak pada kepentingan pemuda sebagai generasi penerus bangsa.
Perhatian dan sikap perduli terhadap pertumbuhan dan perkebunan pemuda harus kita tingkatkan agar generasi bangsa kita semakin kuat, bukan generasi yang lemah, baik fisik maupun mentalnya.
Dengan partisipasi semua pihak dan ditunjang dengan pandangan pandangan pada pemuda yang visioner dan kedewesaannya dalam berpikir yang lebih mengutamakan kepentingan masyarakat, bangsa dan negara. Para Pemuda dan Hadirin yang saya hormati, Demikian sambutan yang dapat saya sampaikan, semoga Allah, Tuhan Yang Maha Esa selalu memberikan bimbingan dan petujuk-Nya kepada Kita sekalian.

Sekian dan Terima kasih

Wassallamualaikum wr. wb.


Pidato Soekarno

PIDATO SOEKARNO

Proklamasi Soekarno pada saat hari Kemerdekaan (1945)


Saudara Saudara Sekalian! saya telah minta saudara saudara hadir di sini untuk menyaksikan suatu peristiwa maha-penting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjoang, Untuk kemerdekaan tanah air kita, bahkan telah beratus-ratus tahun!


Gelombang aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naik dan ada turunnya, tetapi, jiwa kita tetap menuju kearah cita cita.juga di dalam jaman jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak henti hentinya. di dalam jepang ini, tampaknya saja kita menyadarkan diri kepada mereka, tetapi pada hakekatnya, tetap kita tetap menyusun tenaga sendiri, tetapi kita percaya kepada kekuatan sendiri.


Sekarang tibalah saatnya kita benar benar mengambil sikap nasib bangsa indonesia dan tanah air  kita di dalam tangan kita sendiri, Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri akan dapat berdiri dengan kuatnya. maka kami, tadi malah mengadakan musyawarat dengan pemuka pemuka rakyat indonesia dari seluruh indonesia. Permusyawaratan Itu sela sekata berpendapat bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.


Pidato Soekarno : Ganyang malaysia



Kalau kita lapar itu biasa...Kalau kita malu itu juga biasa...Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!

Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!.Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu.


Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.


Serukan serukan ke seluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu un tuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.


Yoo… ayoo… kita… Ganyang…Ganyang… Malaysia…Ganyang… Malaysia. Bulatkan tekad.Semangat kita banyak.Peluru kita banyak, Nyawa kita banyak, Bila perlu satu-satu! 


Pidato Soekarno Revolusi Indonesia Menuju Nasionalisme


Revolusi kita bukan sekadar mengusir Pemerintahan Belanda dari Indonesia. Revolusi kita menuju lebih jauh lagi daripada itu. Revolusi Indonesia menuju tiga kerangka yang sudah terkenal. Revolusi Indonesia menuju kepada Sosialisme! Revolusi Indonesia menuju kepada Dunia Baru tanpa ‘exploitation de l‘homme par l‘homme’ dan ‘exploitation de nation par nation’. 


Pidato Soekarno : Amerika kita Setrika Inggris Kita Linggis



Saudara-saudara, musuh kita yang terbesar yang selalu merusakkan keselamatan dan kesejahteraan Asia dan juga merusakkan keselamatan dan kesejahteraan Indonesia ialah Amerika dan Inggris. Oleh karena itu, di dalam peperangan Asia Timur Raya ini, maka segenap kita punya tenaga, segenap kita punya kemauan, segenap kita punya tekad harus kita tujukan kepada hancur-leburnya Amerika dan Inggris itu. Selama kekuasaan dan kekuatan Amerika dan Inggris belum hancur-lebur, maka Asia dan Indonesia tidak bisa selamat. Karena itu, semboyan kita sekarang ini ialah, Hancurkan kekuasaan Amerika. Hancurkan kekuasaan Inggris. Amerika kita setrika, Inggris kita linggis! 5X

Varia Foto Pengukuhan GPM Sulut



VARIA FOTO JANUARI-FEBRUARI 2016
PENGUKUHAN GERAKAN PEMUDA MARHAEN (GPM) SULUT
DALAM RANGKAIAN PENGUKUHAN 14 ORGANISASI FRONT NASIONALIS/MARHAENIS LAINNYA DI SULUT, DISERTAI DISKUSI PERGERAKAN
Berlokasi di Rumah Dinas Kantor Gubernur Sulut, Hotel Sutan Raja, dan Hotel Grand Puri dihadiri Pj. Gubernur Sulut Soni Sumarsono, Ketua PA GMNI & Bupati Minahasa Tenggara James Sumendap, Ketua Alumni GMNI Pusat Ahmad Basara (Wkl Sekjen PDIP), Pj. Walikota Tomohon Sany Parengkuan, Pj. Bupati Boltim Rudy Mokoginta, Pj. Bupati Minut Hery Rotinsulu, Jefry Rawis, SE (Ketua forMEA Sulut, Ketua Pusat GPPMP, Ketua Dewan Pembina GPM Sulut) dan para senior dan lembaga lainnya.












PERINGATAN PERISTIWA MERAH PUTIH 14 FEBRUARI 1946
Diperingati di Monumen Pahlawan Nasional BW Lapian dan Ch Taulu, Kawangkoan







Jumat, 19 Februari 2016

Dewan Pimpinan Daerah GPM Sulut



DEWAN PIMPINAN DAERAH
GERAKAN PEMUDA MARHAEN (GPM)
SULAWESI UTARA


Dewan Penasehat
-        Ketua     :        Olly Dondokambey.SE
-        Anggota :
Drs.Steven Kandouw
Ahmad Basara
James Sumendap. SH
Drs.Maxmilian Lomban.Msi
Drs.Sanny Parengkuan. Msi
Ir. Roy O Roring. MSi
Drs.Rene Hosang
Ir.Hery Rotinsulu. M.Si
Ir. Rudy Mokoginta
Ronald Sorongan, Msi
Drs. Ferry Sangian
Ivan Sarundayang

Dewan Pembina
-        Ketua              :  Jefry Rawis, SE
-        Sekretaris        :  Sonny Walangarei
-        Anggota          : 
Drs.Arnold Frederik
Drs.Haryanto. Lasut. MAP
Drs. Arie Tawas
Dr. Drs. Elias Pangkey, MPd
Vivie Ares
Herwyn Malonda. MPd
Drs.Celcius Talumingan. MSi
Deflie Walangarei
Frangky Wowor,S.Sos
Els Walangarei, SPd,. MSi
Hein Koyongian. SE
Basmi Said, SE
Heard Runtuwene.SPi.Msi
Victor Herman
Bob Kamagi
Dr. Herman Kodoati
Tourino Karinda, SH

Dewan Pakar
-        Prof. Dr. AF Kawulur. MS.DEA
-        Prof. Dr Winda Mingkid
-        Dr. Daniel Sondakh
-        Dr. Zetly Tamod.
-        Dr.Charles Henry Tangkau.MAP
-        Prof. Dr. Patar Humapea
-        Drs. Fretje Waworuntu. M.Pd


Pengurus Harian GPM Sulawesi Utara

Ketua                         :  Steven Sumolang, S.Sos,. MSi
Wkl Ketua I                :  Donny Rumagit, SP
Wkl Ketua II               :  Wenly Kaligis. S.Pd.MM
Wkl Ketua III              :  Otnie Tamod, SPi
Wkl Ketua IV             :  Herry Pinatik, SPt, MSi
Wkl Ketua V               :  Dr. Stanny Rawung. SE,MM
Wkl Ketua VI             :  Melky Buatasik, SP,MSi
Wkl Ketua VII             :  Ferry Rasubala
Wkl Ketua VIII           :  Salman Saelangi, S.Kel
Wkl Ketua VIII           :  Dr. Frangky Paath

Sekretaris Jendral    :  Edwin Wantah, SPd, MPd,MA
Wakil Sekretaris I      :  Fanly Solang, S.IP
Wakil Sekretaris II     :  Cleance Teddy. SIP
Wakil Sekretaris III    :  Novita Wowor

Bendahara                 :  Christiara Luntungan, SPd, MAP
Wkl Bendahara           :  Aprilla P Regar. S.Th. MTh

Bidang Organisasi, Politik
Melky Turang. S.Pd
Denny Wowor, S.IP
Rommel Pelealu
Maryoh Sangkoy, S.Pd. SE. MM
Nixon Goni, S.Th. MM
Melky Pangemanan, S.IP,. MSi
John Tagaroa Rahasia, S.IP
JermiaPolak, SE
Dave Tular, SE

Bidang Rekrutmen & Kaderisasi
Yannemieke Singal, S.Psi
Joubert Supit, S.Pd
Iwan Kowureng, S,Si
Jetly Kolondam
Liane Regar, S.Pd
Darius Obey Mandagie

Bid. Penelitian Dan Pengembangan
Arthur Karinda. SE.MAP
Olivia Lantang. SE
Rollin Kandouw, SE
Marlon Sarinda. S.Pd
Fadly Mokodongan. S.Pd
Christine Suoth, S.Si

Bid. UMKM dan Koperasi
Elvi Mokobimbing, S.Si
Hendra Manggopa, S.Pd
Gabriela Rumambi, SE
Alfian Alow
Delty Buka

Bid. Advokasi dan Hukum
Wanda Turangan, SH, M.Pd
Amelius Kemur, SH
Gabriela Undap, SH
Christiana Junita, SH
Rendy Pex Rompas, ST

Bid. Pergerakan Perempuan dan Lingkungan Hidup
Deasy Maarisit, S.Si
Neni Kumayas, S.IP,. MA
Marlon Kamagi
Oriana Pratasik, S.Pd
Rayla Kusrorong, S.IP
Keren Wowiling, S.Pd
Ireine Rampisela, M.Pd
Farahdilla Smitha, S.Pd
Iya Tamunu

Bid. Umum dan Humas
Edwin Mundung, S.Pd
Valentine Somba, SE
Stefanie Monigir, SE
Angelia Tambuwun, SE
ValenUmbokahu
Santo Amisan
Julianto Legoh, S.Pd

Bid Seni Dan Budaya
Paul Lontoh, S.Pd
Cindy Muntu, S.S
Esra Tambahani, SE
Frani Palit, S.Pd
Deidy Makelew, S.Pd
Rifka Singal, S.IP

Minahasa Utara          :  Darius Obey Mandagie
Bitung                         :  Nick Lomban, Marlon Sarindah,
Bolmong                     :  Neni Kumayas, S.IP,. MA
Kotamobagu               :  Sumirat Pondabo
Minsel                         :  Eva Keintjem
Sangihe                       :  Hengky Natingkase
Boltim                         :  Muhdi Pasma

Bolsel                          :  Eskolano Kakunsi