Dalam konteks sejarah marhaenisme
merupakan sebuah konstruksi pemikiran soekarno yang dihasilkan dari sebuah
perenungan yang sangat mendalam dan sebuah analisa bedasarkan historis
materialisme terhadap perkembangan masyarakat yang hidup dalam wilayah geo politik
(Hindia Belanda). Berdasar hasil penganalisaan tersebut didapatlah sebuah
relitas sejarah, bahwa rakyat Indonesia mengalami penderitaan yang sangat
mendalam akibat sistem kapitalisme/imperialisme (kolonialisme) bangsa asing dan
feodalisme bangsa sendiri.
Kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan adalah bentuk penderitaan yang
diakaibatkan oleh sistem kapitalisme/imperialisme/kolonialisme yang bersifat
menindas rakyat Indonesia. Ketertindasan rakyat Indonesia ini oleh Soekarno di
contohkan dalam realitas kehidupan yang di alami Pak Marhaen. Yaitu seorang
petani miskin di daerah Cigareleng – Bandung yang kebetulan ketemu dengan
Soekarno muda ketika sedang bergerilya dari desa ke desa. Dari obrolan dengan
pak marhaen didapat keterangan bahwa, meskipun Pak Marhaen memiliki sawah dan
alat produksi sendiri (cangkul, bajak, kerbau dll) termasuk “gubug” namun hasil
produksi pertanian ternyata tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya,
kalaupun cukup itupun secara pas-pasan.
Untuk itulah diperlukan sebuah landasan perjuangan (flat form perjuangan) bagi bangsa Indonesia untuk membebaskan diri dari segala bentuk penindasan yang menyengsarakan tersebut. Landasan perjuangan tersebut oleh Soekarno dirumuskan dalam MARHAENISME. Marhaenisme dalam pemikiran Soekarno adalah sebuah idiologi perjuangan sekaligus sebagai idiologi pembebasan.
Untuk itulah diperlukan sebuah landasan perjuangan (flat form perjuangan) bagi bangsa Indonesia untuk membebaskan diri dari segala bentuk penindasan yang menyengsarakan tersebut. Landasan perjuangan tersebut oleh Soekarno dirumuskan dalam MARHAENISME. Marhaenisme dalam pemikiran Soekarno adalah sebuah idiologi perjuangan sekaligus sebagai idiologi pembebasan.
Marhaenisme &
Jiwa Kehidupan Rakyat
Dari realitas sosial politik yang
dilihat soekarno tersebut maka tanpa melakukan perlawanan terhadap sistem
kapitalisme, imperialisme, kolonialisme dan feodalisme maka tidak mungkin
membebaskan anak manusia dari kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan
penindasan manusia atas manusia dan bangsa atas bangsa. Dari uraian diatas
jelaslah bahwa marhaenisme memiliki keperpihakan yang sangat besar terhadap
kaum tertindas (marhaen).
Marhaenisme adalah cermin dari jiwa
dan cita-cita kehidupan rakyat Indonesia yang merdeka. Bahkan marhaenisme
adalah cerimin dari jiwa dan cita-cita kehidupan manusia. Mengapa begitu ?
Sebab pada prinsipnya ajaran marhaenisme itu bersumber dari TUNTUTAN
BUDI/NURANI MANUSIA (the social concience of man) yaitu tuntutan atau keinginan
untuk terciptanya harmonisasi antara kemerdekaan individu dan keadilan sosial.
Begitu pula bagi rakyat Indonesia yang menginginkan kemerdekaan sebagai sebuah
negara bangsa yang didalam segalanya menyelamatkan kaum marhaen dari segala
bentuk penindasan dan ketidak adilan.
Marhaenisme Sebagai
Azas
Dari berbagai tulisan Soekarno dapat
kita temukan pada prinsipnya marhaenisme sebagai idiologi/azas mengandung tiga
pokok pikiran yaitu SOSIO NASIONALISME (nasionalisme yang berperi kemanusiaan),
SOSIO DEMOKRASI (demokrasi politik dan demokrasi ekonomi/ demokrasi yang
berorientasi pada keadlan sosial) DAN KETUHANAN YANG MAHA ESA (demensi
religiusitas bangsa Indonesia). Untuk mewujudkan cita-cita marhaenisme yaitu
masyarakat adil makmur maka harus ditempuh dengan jalan REVOLUSI. Revolusi
menurut marhaenisme dibagi dalam tiga tahap :
1.
Tahap Nasional Demokratis
2.
Tahap Sosialisme Indonesia
3.
Tahap Masyarakat Dunia Adil Makmur
Tahap nasional demokratis akan dapat
dicapai apabila tiga prinsip kemerdekaqn yang bersifat universal dapat di
wujudkan. Ketiga prinsip kemerdekaan (TRISAKTI) itu adalah:
1.
berdaulat di bidang politik
2.
berdikari di bidang ekonomi
3.
berkepribadian di bidang kebudayaan
Ketiga prinsip kemerdekaan itu harus
dibangun diatas landasan NATION AND CHARACTER BUILDING.
Hakekat perjuangan pada massa revolusi fisik menuju kemerdekaan
adalah dengan perjuangan politik. Perjuangan politik yang dibangun Soekarno
adalah dengan machtvorming (pembentukan kekuatan) dan machtaadwending
(penggunaan kekuatan). Sehingga mampu membentuk kekuatabn progresif
revolusioner (kekuatan massa aksi) menuju Proklamasi 17 Agustus 1945. Inilah
tonggak awal tahap Nasional Demokratis.
Untuk menuju sosialisme Indonesia dan dunia Baru Yang adil dan beradab maka nilai-nilai marhaenisme mulai harus diperjuangkan dan ditegakkan. Disamping itu usaha-uasaha perbaikan sosial dalam kerangka menuju kehidupan yang lebih manusiawi pun harus ditegakkan. Semua upaya ini harus berlandaskan pada prinsip-prinsip kemerdekaan yang sudah kita sepakati bersama melalui “proclamation of independen” dan “dekalaration of independen”.
Untuk menuju sosialisme Indonesia dan dunia Baru Yang adil dan beradab maka nilai-nilai marhaenisme mulai harus diperjuangkan dan ditegakkan. Disamping itu usaha-uasaha perbaikan sosial dalam kerangka menuju kehidupan yang lebih manusiawi pun harus ditegakkan. Semua upaya ini harus berlandaskan pada prinsip-prinsip kemerdekaan yang sudah kita sepakati bersama melalui “proclamation of independen” dan “dekalaration of independen”.
Pertama: Dalam tataran internasional
Soekarno melakukan penggalangan kekuatan bangsa-bangsa tertindas melalui
Gerakan NON-BLOK yang disebut dengan NEW EMERGING FORCE (NEFO) yang diawali
melalui Konferensi Asia Afrika di Bandung 1955. Sementara itu pada tataran
nasional Soekarno melakukan strategi NASAKOM (nasinalisme, agama dan komonisme)
yaitu bersatunya kekuatan progresif revolusioner yang ada dan mengakar kuat
dalam masyarakat Indonesia. Kerangka itu dibangun dalam rangka melawan segala
macam bentuk penindasan dan penghisapan manusia atas manusia dan penindasan
bangsa-atas bangsa atau melawan segala betuk kapitalisme,imperialisme,kolonialisme
dan feodalisme.
Kedua : Untuk tidak tergantung pada
kapitalisme didalam negeri Soekarno mengembangkan prinsif self helf dan self
reliance. Dan tataran internasional dikembangkan prinsip kerjasama
internasional ynag sejajar dan saling menguntungkan serta tidak menciptakan
ketergantungan.
Ketiga : Dalam bidang kebudayaan maka
perjuangan untuk mngikis budaya feodalisme yang menindas rakyat. Dan
mengembangkan sistem kebudayaan Indonesia yang berkepribadian ke-Indonesia-an
yang selalu mengabdi pada kepentingan rakyat. Bukan kebudayaan barat yang
menindas rakyat.
Marhaenisme Sebagai
Azas Perjuangan
1. Non Kooperasi
Pada hakekatnya sana mau kesana -
sini mau kesini. Keinginan kita tidak akan terpenuhi dengan
meminta-minta/bekerjasana dengan kaum sana. Kita harus mengenal siapa lawan
siapa kawan. Kemudian menentukan kontradiksi pokok dan kontradiksi tidak pokok.
Antagonis dan non antagonis. Massa aksi dan machtvorming akan terbentuk melalui
non kooperasi
2. Machvorming
Pembentukan kekuasaan. Kienginan akan
terpenuhi kalau ada macht untuk mendesakkan. Machvorming bersendikan atas
antitesa antara sana dan sini
3. massa aksi
kebangkitan massa secara radikal
revolusioner yang disebabkan oleh tenaga-tenaga masyarakat sendiri yang sadar
akan perjuanganya. Bentuk perjuangan massa aksi adalah bentuk perbuatan
perjuangan kaum marhaen.. Machtvorming akan terbentuk apabila ada m,asa aksi.
4. Radikallisme
Adalah sikap yang mendasar, yang
mencakup radikalisme pemikiran, radikalisme semangat, radikalisme gerakan. Dan
radikalisme dapat dibangkitkan melalui non kooperasi
5. Self Ulf
Semangat mengelola sumber daya yang
dimiliki. Tidak bergantung pada pihak lain
6. self reliance
kepercayaan diri adalah modal utama
gerakan tanpa kepercayaan suatu gerakan akan kehilangan daya hidup dan
dinamikanya.
Sumber : http://mainunkurniansyah.blogspot.co.id/2011/11/sejarah-lahirnya-marhaenisme.html
GmnI jaya Marhaen Menang..
BalasHapusSalut dan siap dukung
BalasHapus