Sabtu, 20 Februari 2016

Lahirnya Marhaenisme

Jumat, 18 November 2011

Dalam konteks sejarah marhaenisme merupakan sebuah konstruksi pemikiran soekarno yang dihasilkan dari sebuah perenungan yang sangat mendalam dan sebuah analisa bedasarkan historis materialisme terhadap perkembangan masyarakat yang hidup dalam wilayah geo politik (Hindia Belanda). Berdasar hasil penganalisaan tersebut didapatlah sebuah relitas sejarah, bahwa rakyat Indonesia mengalami penderitaan yang sangat mendalam akibat sistem kapitalisme/imperialisme (kolonialisme) bangsa asing dan feodalisme bangsa sendiri. 
Kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan adalah bentuk penderitaan yang diakaibatkan oleh sistem kapitalisme/imperialisme/kolonialisme yang bersifat menindas rakyat Indonesia. Ketertindasan rakyat Indonesia ini oleh Soekarno di contohkan dalam realitas kehidupan yang di alami Pak Marhaen. Yaitu seorang petani miskin di daerah Cigareleng – Bandung yang kebetulan ketemu dengan Soekarno muda ketika sedang bergerilya dari desa ke desa. Dari obrolan dengan pak marhaen didapat keterangan bahwa, meskipun Pak Marhaen memiliki sawah dan alat produksi sendiri (cangkul, bajak, kerbau dll) termasuk “gubug” namun hasil produksi pertanian ternyata tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, kalaupun cukup itupun secara pas-pasan.
Untuk itulah diperlukan sebuah landasan perjuangan (flat form perjuangan) bagi bangsa Indonesia untuk membebaskan diri dari segala bentuk penindasan yang menyengsarakan tersebut. Landasan perjuangan tersebut oleh Soekarno dirumuskan dalam MARHAENISME. Marhaenisme dalam pemikiran Soekarno adalah sebuah idiologi perjuangan sekaligus sebagai idiologi pembebasan.

Marhaenisme & Jiwa Kehidupan Rakyat
Dari realitas sosial politik yang dilihat soekarno tersebut maka tanpa melakukan perlawanan terhadap sistem kapitalisme, imperialisme, kolonialisme dan feodalisme maka tidak mungkin membebaskan anak manusia dari kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan penindasan manusia atas manusia dan bangsa atas bangsa. Dari uraian diatas jelaslah bahwa marhaenisme memiliki keperpihakan yang sangat besar terhadap kaum tertindas (marhaen).
Marhaenisme adalah cermin dari jiwa dan cita-cita kehidupan rakyat Indonesia yang merdeka. Bahkan marhaenisme adalah cerimin dari jiwa dan cita-cita kehidupan manusia. Mengapa begitu ? Sebab pada prinsipnya ajaran marhaenisme itu bersumber dari TUNTUTAN BUDI/NURANI MANUSIA (the social concience of man) yaitu tuntutan atau keinginan untuk terciptanya harmonisasi antara kemerdekaan individu dan keadilan sosial. Begitu pula bagi rakyat Indonesia yang menginginkan kemerdekaan sebagai sebuah negara bangsa yang didalam segalanya menyelamatkan kaum marhaen dari segala bentuk penindasan dan ketidak adilan.

Marhaenisme Sebagai Azas
Dari berbagai tulisan Soekarno dapat kita temukan pada prinsipnya marhaenisme sebagai idiologi/azas mengandung tiga pokok pikiran yaitu SOSIO NASIONALISME (nasionalisme yang berperi kemanusiaan), SOSIO DEMOKRASI (demokrasi politik dan demokrasi ekonomi/ demokrasi yang berorientasi pada keadlan sosial) DAN KETUHANAN YANG MAHA ESA (demensi religiusitas bangsa Indonesia). Untuk mewujudkan cita-cita marhaenisme yaitu masyarakat adil makmur maka harus ditempuh dengan jalan REVOLUSI. Revolusi menurut marhaenisme dibagi dalam tiga tahap :
1.       Tahap Nasional Demokratis
2.      Tahap Sosialisme Indonesia
3.      Tahap Masyarakat Dunia Adil Makmur
Tahap nasional demokratis akan dapat dicapai apabila tiga prinsip kemerdekaqn yang bersifat universal dapat di wujudkan. Ketiga prinsip kemerdekaan (TRISAKTI) itu adalah:
1.       berdaulat di bidang politik
2.      berdikari di bidang ekonomi
3.      berkepribadian di bidang kebudayaan
Ketiga prinsip kemerdekaan itu harus dibangun diatas landasan NATION AND CHARACTER BUILDING.
Hakekat perjuangan pada massa revolusi fisik menuju kemerdekaan adalah dengan perjuangan politik. Perjuangan politik yang dibangun Soekarno adalah dengan machtvorming (pembentukan kekuatan) dan machtaadwending (penggunaan kekuatan). Sehingga mampu membentuk kekuatabn progresif revolusioner (kekuatan massa aksi) menuju Proklamasi 17 Agustus 1945. Inilah tonggak awal tahap Nasional Demokratis.
Untuk menuju sosialisme Indonesia dan dunia Baru Yang adil dan beradab maka nilai-nilai marhaenisme mulai harus diperjuangkan dan ditegakkan. Disamping itu usaha-uasaha perbaikan sosial dalam kerangka menuju kehidupan yang lebih manusiawi pun harus ditegakkan. Semua upaya ini harus berlandaskan pada prinsip-prinsip kemerdekaan yang sudah kita sepakati bersama melalui “proclamation of independen” dan “dekalaration of independen”.
Pertama: Dalam tataran internasional Soekarno melakukan penggalangan kekuatan bangsa-bangsa tertindas melalui Gerakan NON-BLOK yang disebut dengan NEW EMERGING FORCE (NEFO) yang diawali melalui Konferensi Asia Afrika di Bandung 1955. Sementara itu pada tataran nasional Soekarno melakukan strategi NASAKOM (nasinalisme, agama dan komonisme) yaitu bersatunya kekuatan progresif revolusioner yang ada dan mengakar kuat dalam masyarakat Indonesia. Kerangka itu dibangun dalam rangka melawan segala macam bentuk penindasan dan penghisapan manusia atas manusia dan penindasan bangsa-atas bangsa atau melawan segala betuk kapitalisme,imperialisme,kolonialisme dan feodalisme.
Kedua : Untuk tidak tergantung pada kapitalisme didalam negeri Soekarno mengembangkan prinsif self helf dan self reliance. Dan tataran internasional dikembangkan prinsip kerjasama internasional ynag sejajar dan saling menguntungkan serta tidak menciptakan ketergantungan.
Ketiga : Dalam bidang kebudayaan maka perjuangan untuk mngikis budaya feodalisme yang menindas rakyat. Dan mengembangkan sistem kebudayaan Indonesia yang berkepribadian ke-Indonesia-an yang selalu mengabdi pada kepentingan rakyat. Bukan kebudayaan barat yang menindas rakyat.

Marhaenisme Sebagai Azas Perjuangan
1. Non Kooperasi
Pada hakekatnya sana mau kesana - sini mau kesini. Keinginan kita tidak akan terpenuhi dengan meminta-minta/bekerjasana dengan kaum sana. Kita harus mengenal siapa lawan siapa kawan. Kemudian menentukan kontradiksi pokok dan kontradiksi tidak pokok. Antagonis dan non antagonis. Massa aksi dan machtvorming akan terbentuk melalui non kooperasi
2. Machvorming
Pembentukan kekuasaan. Kienginan akan terpenuhi kalau ada macht untuk mendesakkan. Machvorming bersendikan atas antitesa antara sana dan sini
3. massa aksi
kebangkitan massa secara radikal revolusioner yang disebabkan oleh tenaga-tenaga masyarakat sendiri yang sadar akan perjuanganya. Bentuk perjuangan massa aksi adalah bentuk perbuatan perjuangan kaum marhaen.. Machtvorming akan terbentuk apabila ada m,asa aksi.
4. Radikallisme
Adalah sikap yang mendasar, yang mencakup radikalisme pemikiran, radikalisme semangat, radikalisme gerakan. Dan radikalisme dapat dibangkitkan melalui non kooperasi
5. Self Ulf
Semangat mengelola sumber daya yang dimiliki. Tidak bergantung pada pihak lain
6. self reliance
kepercayaan diri adalah modal utama gerakan tanpa kepercayaan suatu gerakan akan kehilangan daya hidup dan dinamikanya.

Sumber : http://mainunkurniansyah.blogspot.co.id/2011/11/sejarah-lahirnya-marhaenisme.html

2 komentar: